Berita

China bersiap banjiri dunia lebih banyak EV dan PHEV murah

×

China bersiap banjiri dunia lebih banyak EV dan PHEV murah

Sebarkan artikel ini


China (ANTARA) – Produsen mobil China mulai memasuki fase baru era kendaraan listrik dengan membanjiri pasar melalui EV dan plug-in hybrid (PHEV) berbiaya rendah yang dipamerkan di Guangzhou Motor Show, China.

Laman Carscoops, Jumat (28/11), melaporkan, bahwa dengan harga mulai 100.001 yuan (Rp235,3 juta) hingga 150.000 yuan (Rp352,9 juta), generasi terbaru kendaraan ini menunjukkan pesan yang jelas: China berambisi menguasai pasar massal elektrifikasi.

Banyak produsen mobil terbesar China bersiap mengekspor model-model hemat biaya tersebut. Bagi merek-merek besar Barat yang masih bergulat dengan biaya produksi dan target emisi, harga seperti ini bukan sekadar tanda persaingan sehat, melainkan awal dari tekanan harga global yang besar.

Sejumlah model EV dan PHEV terbaru tampil di pameran tersebut, termasuk Leapmotor A10 yang diperkirakan dijual mulai sekitar 100.000 yuan (Rp235,3 juta) dan akan diekspor ke berbagai negara. Hatchback listrik Lafa 5 dari perusahaan yang sama juga akan diluncurkan dengan kisaran harga serupa.

Nio menarik perhatian dengan Firefly, yang untuk pertama kalinya ditampilkan dalam versi setir kanan. Dibanderol sekitar 100.000 yuan di China, Firefly akan memasuki 17 pasar baru tahun depan, termasuk Amerika Tengah. GAC juga ikut meramaikan dengan SUV Aion i60 berbasis range-extender yang mulai dijual pada 109.800 yuan (Rp258,3 juta).

Baca juga: Pengemudi EV & PHEV di Inggris akan dikenai pajak sesuai jarak tempuh

Industri otomotif China telah berada dalam perang harga selama beberapa tahun terakhir, dan situasinya belum menunjukkan tanda mereda. Persaingan paling ketat justru terjadi di segmen harga bawah.

Dalam sembilan bulan pertama tahun ini saja, 2,35 juta EV dan plug-in hybrid (PHEV) dengan harga 100.001–150.000 yuan terjual di China. Ini menjadikannya segmen pasar terbesar di negara tersebut, naik dari kurang dari 1,5 juta unit pada periode yang sama tahun lalu.

Sebaliknya, model dengan harga 150.001 – 200.000 yuan (Rp352,9 – Rp470,6 juta) stabil di sekitar 2,3 juta penjualan. Pertumbuhan signifikan juga terjadi pada kendaraan energi baru (NEV) dengan harga lebih murah. Penjualan kendaraan di kisaran 11.300 – 14.100 dolar AS (Rp188 – Rp234,7 juta) dan 11.300 dolar AS ke bawah meningkat dua kali lipat hingga melampaui satu juta unit.

Meski pilihan kendaraan yang lebih terjangkau menguntungkan konsumen China, kondisi ini justru menekan produsen mobilnya sendiri. Pada kuartal Juli-September, laba bersih BYD turun 30 persen, penurunan pertama dalam empat tahun. Great Wall mengalami hal serupa, dengan laba anjlok 30 persen meski penjualan naik 20 persen.

Sementara itu, ekspor terus melonjak. Dalam tiga kuartal pertama tahun ini, merek China mengirim 1,75 juta EV dan PHEV ke luar negeri, meningkat 89 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Baca juga: Pemerintah dinilai perlu susun regulasi “paspor” baterai EV

Baca juga: Pakar ungkap bagaimana seharusnya sistem kelola baterai EV bekas

Pewarta:
Editor: Indriani
Copyright © ANTARA 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

formasi agar modal tahan lama di mahjong wins situs gacormahjong ways berikan pecahan besar tak terhinggapemuda jakut dapat tas lv berkat mahjong winsroni anak jakut bawa cash ratusan juta maxwin mahjong wayssituasi sudah kondusif scatter mahjong wins peluang indahslot gacorjawara76